Gulo puan dibuat menggunakan susu kerbau segar yang dimasak perlahan dalam kuali besar. Selama proses memasak, susu terus diaduk supaya tidak pecah dan tidak mudah gosong. Setelah mulai mengental, barulah dimasukkan gula hingga warnanya berubah menjadi kecokelatan. Proses ini memakan waktu cukup lama karena api harus tetap kecil agar teksturnya lembut dan rasa susunya tidak hilang.Hasil akhirnya menyerupai selai dengan warna cokelat muda dan aroma susu yang kuat. Biasanya gulo puan disantap bersama roti tawar, ketan kukus, atau sekadar dioleskan pada biskuit. Rasanya tidak terlalu manis, justru lebih didominasi rasa gurih dari susu kerbau yang membuatnya berbeda dengan selai pada umumnya.
Di beberapa keluarga Melayu yang menetap di Medan, gulo puan masih sering disajikan ketika ada tamu atau saat berkumpul bersama keluarga. Hidangan sederhana ini menjadi pelengkap minum teh pada sore hari. Walaupun tampilannya tidak mewah, banyak orang tetap menyukainya karena cita rasanya terasa alami dan tidak berlebihan.
Saat ini jumlah pembuat gulo puan semakin sedikit. Selain bahan bakunya tidak mudah diperoleh, proses memasaknya juga membutuhkan kesabaran dan pengalaman. Tidak semua orang sanggup mengaduk susu selama berjam-jam hingga menghasilkan tekstur yang tepat.
Walaupun mulai sulit ditemukan, gulo puan tetap menjadi salah satu kekayaan kuliner yang patut dijaga. Makanan sederhana ini membuktikan bahwa warisan rasa tidak selalu berasal dari JADITOTO bahan yang mahal, melainkan dari ketelatenan orang-orang yang masih setia mempertahankan cara memasak tradisional hingga sekarang. Di tengah berkembangnya kuliner modern, gulo puan tetap memiliki nilai budaya yang layak dikenalkan kepada generasi muda agar keberadaannya tidak hilang ditelan zaman.